Rat Race

Menjelajahi pikiran Robert T. Kiyosaki melalui buku Rich Dad, Poor Dad memberikan aku sudut pandang yang sangat besar terhadap finansial, dan apa yang disampaikannya memang dialami oleh setiap orang, termasuk aku.

Rat Race, perumpamaan yang sering ia jelaskan diawal-awal buku yang mengungkapkan bahwa kebanyakkan orang terjebak dalam lingkaran yang berulang. Mudahnya, istilah dalam bahasa Indonesia adalah “Gali lobang tutup lobang”.

Daya pikat untuk konsumsi berbagai hal memang sangat kuat, memiliki pendapatan yang cukup membuat ku sering tidak membedakan antara keinginan dan kebutuhan, berbagai alasan untuk membeli sesuatu hal pun muncul misalnya:
“Ah, mumpung disini”, “Tabungan masih aman, tenang”, “YOLO~”, dan masih banyak lagi. Ditambah lagi yang lebih parah, aku belum memikirkan aset untuk diriku dimasa depan, hal ini mungkin juga kamu alami saat ini.

Membaca tulisan Robert memberikan ku peringatan mengenai Rat Race ini. Dalam pengalamannya, banyak orang terjebak dengan hutang yang membelenggu mereka sehingga memaksa mereka untuk bekerja lebih keras lagi hingga hal tersebut, bisa saja, diturunkan ke anak mereka untuk melunasinya.

Skema mudahnya seperti ini:

Pendapatan > Gaya hidup (gadget, kebutuhan sehari-hari, branding diri yang ingin ditunjukkan, traveling, biaya hidup keluarga, dan lainnya) > Cicilan > pendapatan > Gaya hidup > Cicilan > dan berlanjut terus menerus.

Robert memberikan saran yang sangat berguna, terutama untuk anak muda yang saat ini sedang mengembangkan bisnisnya. Intinya yakni bedakan mengenai Aset & Kewajiban.

Aset sesuatu yang nantinya akan dapat menghasilkan uang dan bahkan dapat berkembang menjadi sesuatu yang sangat luar biasa, yakni aset tersebut yang akan bekerja untuk kamu.

Kewajiban, dari yang kupahami yakni hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan & keinginan. Hal mengejutkan lainnya, menurutnya rumah, mobil termasuk dalam kategori ini.

Terkait dengan Rat Race, setelah ku pikir-pikir ternyata aku termasuk dalam kategori orang-orang yang mungkin sudah terjebak dalam lingkaran ini. Konsumerisme punya kekuatannya untuk menghipnotis kita dengan berbagai cara, baik itu eksternal diri seperti promosi, ataupun pendapat orang lain (endorse, pemakaian teman-teman sekeliling) dan dari internal diri sendiri.

Ditambah lagi, kartu kredit yang dengan mudahnya digunakan untuk membeli ini itu menjadikan daya konsumsi lebih besar lagi. Setelah membaca mengenai Rat Race ini, aku pikir kita harus sadar akan perlunya pendidikan finansial.

Pendidikan dasar seperti ini menurutku dapat diaplikasikan dalam berbagai level kehidupan, terutama untuk anak-anak muda yang baru atau sedang dalam usia 20-an tahun.

Menarik untuk diikuti, karena pendidikan finansial seperti ini bisa memberikan wawasan yang baik untuk kamu yang sedang berusia 20-an tahun atau yang akan membangun usaha sendiri.

Haruskah pendidikan finansial termasuk dalam pendidikan formal kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: